Senin, 06 Januari 2014

Puisi ke-10 buat Majid.

Hidup mengajariku untuk menjadi tegar. Untuk menjadi sebuah pemenang dimedan perang. Untuk menjadi wanita yang hatinya tak lagi mudah dipatahkan.

Aku pernah jatuh cinta dengan seorang pria yang aku cintai mati matian namun tulusku ini ia abaikan. Dan aku sadar ini semua adalah kenyataan.

Aku mencintainya dan sampai saat inipun hatiku utuh miliknya. Namun aku sadar, kesempatan itu tak akan lagi datang. Aku tak mungkin lagi bisa bersamanya yang telah berbahagia dengan perempuan yang ia puja.

Ya, aku cemburu, melihat bagaimana ia dipenuhi cinta sementara aku sibuk meratapi cerita yang pernah kita jalin bersama. Bagaimana ia mulai kembali jatuh cinta dengan perempuan lain dan aku hanya bisa bermuram durja.

Tapi. Sekarang aku sadar, meratapinya adalah sebuah kesalahan besar. Yang bisa kini kulakukan adalah belajar atas semua kesalahan yang sudah aku catatkan.

Kakanda, aku akan berubah bukan untukmu. Tapi untuk diriku sendiri. Aku memang salah dan akan selalu salah karna masih mencintai sosokmu. Aku lelah untuk mengemis cintamu. Aku lelah memintamu kembali padaku.

Kakanda. Aku akan selalu menunggumu. Tak akan pernah bosan aku menjagamu dengan doaku. Takan pernah bosan rasaku teruntuk dirimu. Kamu akan selalu memiliki tempat dihati kecilku.

Bagaimanapun aku tak boleh terus begini. Tak boleh mengusik dunia percintaanmu yang amat berarti. Semoga wanitamu bisa mencintaimu lebih dari yang aku lakukan dulu. Semoga wanitamu tak pernah bosan mendengarkan candamu. Semoga wanitamu bisa lebih bersabar menghadapi sosokmu. Aku doakan kebahagiaan untukmu selalu.

Kakanda. Ingatlah selalu. Cinta ini akan selalu ada buatmu. Jika kau ingin kembali aku selalu jadi rumahmu.

Kakanda. Aku ingin istirahat dulu. Tak ingin kenal cinta dulu. Aku akan selalu menunggu dirimu. Kau tak mau kembalipun hatiku tetap kepunyaanmu.

Kakanda. Jadikan aku rumah buatmu. Kau tahu maksudnya?

Jadi begini. Bagaimanapun sejauh apapun sebagus apapun tempat kamu pergi. Tetaplah rumah tempatmu kembali.

Selamat pagi :)

Jumat, 03 Januari 2014

Kembali. Kembali. Kembali.

Jatuh cinta tak pernah beralasan. Semakin kuat bertanya kenapa semakin keras berfikir bagaimana semakin takan kau temukan jawaban.

Aku mencintaimu, itu terjadi begitu saja, itu bukan bagian dari rencana. Aku tak penah berfikir semuanya akan berakhir sia-sia.

Aku fikir kau akan jadi yang paling berbeda. Jangan tanya kenapa. Aku salah, aku tak pernah berfikir kau akan pergi. Aku tetap meyakini kau akan jadi yang lebih. Tapi kini teoriku salah besar.

Aku menoyor kepalaku sendiri. Menyalahkan sikapku. Tapi sekeras apapun aku mencoba. Kau tak mungkin kembali.

Aku tetap cinta kau kepala batu. Aku tetap menunggu kau lelah dan mencari sandaran. Bahuku akan selalu jadi milikmu. Hatiku rapat rapat kupagari kalau kalau nati kau kembali.

Kenapa kau tak bisa tak biaa kembali. Apakah sulit kau temukan jalanmu. Apa Tuhan tak menakdirkanmu buatku. Kalau iya. Bagaimana dengan rasaku?

Apakah kau tau bagaimana suara rintihku jika aku rindukan kamu. Bagaimanapun siapapun yang mendengarnya akan tersayat. Tangisan terburuk yang aku pernah buat. Tapi tangis itu selalu sama. Selalu sulit berhenti. Sama dengan rindu ini.

Kembali. Aku mau kamu kembali. Tinggalah disini. Jangan pernah pergi. Sakiti aku sesukamu. Remukan hatiku sesukamu. Tinju aku sebebasmu. Hempaskan aku sejauh kamu mau. Asal kamu kembali. Aku rela. Aku relakan itu.